Sabtu, 13 Oktober 2012
PIDATO NAWAKSARA
Saudara-saudara sekalian,
I. RETROSPEKSI
Dengan mengucap Syukur Alhamdulillah, maka pagi ini saya berada di muka Sidang Umum MPRS yang ke-lV. Sesuai dengan Ketetapan MPRS No.I/1960 yang memberikan kepada diri saya, Bung Karno, gelar Pemimpin Besar Revolusi dan kekuasaan penuh untuk melaksanakan Ketetapan-ketetapan tersebut, maka dalam Amanat saya hari ini saya ingin mengulangi lebih dulu apa yang pernah saya kemukakan dalam Amanat saya di muka Sidang Umum ke-ll MPRS pada tanggal 15 Mei 1963, berjudul "Ambeg Parama-Arta" tentang hal ini:
1. Pengertian Pemimpin Besar Revolusi.
Dalam pidato saya "Ambeg Parama-Arta" itu, saya berkata: "MPRS telah memberikan KEKUASAAN PENUH kepada saya untuk melaksanakannya, dan dalam memberi kekuasaan penuh kepada saya itu, MPRS menamakan saya bukan saja Presiden, bukan saja Panglima Tertinggi Angkatan Perang, tetapi mengangkat saya juga menjadi: "PEMIMPIN BESAR REVOLUSI INDONESIA".
Saya menerima pengangkatan itu dengan sungguh rasa terharu, karena MPRS sebagai Perwakilan Rakyat yang tertinggi di dalam Republik Indonesia, menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa saya adalah "Pemimpin Besar Revolusi Indonesia", yaitu: "PEMIMPIN BESAR REPUBLIK RAKYAT INDONESIA"!
Dalam pada itu, saya sadar, bahwa hal ini bagi saya membawa konsekuensi yang amat besar! Oleh karena seperti Saudara-saudara juga mengetahui, PEMIMPIN membawa pertanggungan-jawab yang amat berat sekali!!
"Memimpin" adalah lebih berat daripada sekedar "Melaksanakan". "Memimpin" adalah lebih berat daripada sekedar menyuruh melaksanakan"!
Saya sadar, lebih daripada yang sudah-sudah, setelah MPRS mengangkat saya menjadi "Pemimpin Besar Revolusi", bahwa kewajiban saya adalah amat berat sekali, tetapi Insya Allah S.W.T. saya terimapengangkatan sebagai "Pemimpin Besar Revolusi" itu dengan rasa tanggung jawab yang setinggi-tingginya!
Saya Insya Allah, akan beri pimpinan kepada Indonesia, kepada Rakyat Indonesia, kepada Saudara-saudara sekalian, secara maksimal di bidang pertanggungan-jawab dan kemampuan saya. Moga-moga Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Murah, dan Maha Asih, selalu memberikan bantuan kepada saya secukup-cukupnya!
Sebaliknya, kepada MPRS dan kepada Rakyat Indonesia sendiri, hal ini pun membawa konsekuensi! Tempohari saya berkata: "Jikalau benar dan jikalau demikianlah Keputusan MPRS, yang saya diangkat menjadi Pemimpin Revolusi Besar Indonesia, Revolusi Rakyat Indonesia, maka saya mengharap seluruh Rakyat, termasuk juga segenap Anggota MPRS, untuk selalu mengikuti, melaksanakan, menfi'ilkan segala apa yang saya berikan dalam pimpinan itu! Pertanggungan-jawab yang MPRS, sebagai Lembaga Tertinggi Republik Indonesia letakkan di atas pundak saya, adalah suatu pertanggungan-jawab yang berat sekali, tetapi denganridha Allah S.W.T. dan dengan bantuan seluruh Rak yat Indonesia, termasuk di dalanlnya juga Saudara-saudara para Anggota MPRS sendiri, saya percaya, bahwa Insya Allah, apa yang digariskan oleh Pola Pembangunan itu dalam 8 tahun akan terlaksana!
Demikianlah Saudara-saudara sekalian beberapa kutipan daripada Amanat "Ambeg Parama-Arta".
Saudara-saudara sekalian,
Dari Amanat "Ambeg Parama-Arta" tersebut, dapatlah Saudara ketahui, bagaimana visi serta interpretasi saya tentang predikat Pemimpin Besar Revolusi yang Saudara-saudara berikan kepada saya.
Saya menginsyafi, bahwa predikat itu adalah sekedar gelar, tetapi saya pun - dan dengan saya semua ketentuan-ketentuan progresif revolusioner di dalam masyarakat kita yang tak pernah absen dalam kancahnya Revolusi kita - saya pun yakin seyakin-yakinnya, bahwa tiap Revolusi mensyarat-mutlakkan adanya Pimpinan Nasional. Lebih-lebih lagi Revolusi Nasional kita yang multi-kompleks sekarang ini, dan yang berhari depan Sosialisme Panca-Sila. Revolusi demikian ta' mungkin tanpa adanya pimpinan. Dan pimpinan itu jelas tercermin dalam tri-kesatuannya Re-So-Pim, yaitu Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional.
2. Pengertian Mandataris MPRS.
Karena itulah, maka pimpinan yang saya berikan itu adalah pimpinan di segala bidang. Dan sesuai dengan pertanggungan-jawab saya terhadap MPRS, pimpinan itu terutarna menyangkut garis-garis besarnya. Ini pun adalah sesuai dan sejalan dengan kemurnian bunyi aksara dan jiwa Undang-Undang Dasar '45, yang menugaskan kepada MPRS untuk menetapkan garis-garis besar haluan Negara. Saya tekankan garis-garis besarnya saja dari haluan Negara. Adalah tidak sesuai dengan jiwa dan aksara kemurnian Undang-Undang Dasar '45, apabila MPRS jatuh terpelanting kembali ke dalam alam Liberale democratie, dengan beradu debat dengan bertele-tele tentang garis-garis kecil, di mana masing-masing golongan beradu untuk memenangkan kepentingan-kepentingan golongan dan mengalahkan kepentingan nasional, kepentingan Rakyat banyak, kepentingan Revolusi kita!
Pimpinan itu pun saya dasarkan kepada jiwa Panca-Sila, yang telah kita pancarkan bersama dalam Manipol-Usdek sebagai garis-garis besar haluan Negara. Dan lebih-lebih mendalam lagi, maka saya telah mendasarkan pimpinan itu kepada Sabda Rasulullah S.A.W.: "Kamu sekalian adalah Pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungan-jawabnya tentang kepemimpinan itu di hari kemudian."
Saudara-saudara sekalian,
Itulah jiwa daripada pimpinan saya, seperti yang telah saya nyatakan dalam Amanat "Ambeg Parama-Arta" tersebut tadi. Dan Saudarasaudara telah membenarkan amanat itu, terbukti dengan Ketetapan MPRS No.IV/1963, yang menjadikan Resopim dan Ambeg Parama-Arta masing-masing sebagai pedoman pelaksanaan garis-garis besar haluan Negara, dan sebagai landasan kerja dalam melaksanakan Konsepsi Pembangunan seperti terkandung dalam Ketetapan MPRS No.l dan 11 tahun 1960.
3. Pengertian Presiden seumur hidup
Malahan dalam Sidang Umum MPRS ke-ll pada bulan Mei tahun 1963 itu Saudara-saudara sekalian telah menetapkan saya menjadi Presiden se-umur-hidup. Dan pada waktu itu pun saya telah menjawab keputusan Saudara-saudara itu dengan kata-kata: "Alangkah baiknya jikalau nanti MPR, yaitu MPR hasil pemilihan-umum, masih meninjau soal ini kembali." Dan sekarang ini pun saya masih tetap berpendapat demikian!
II. LANDASAN-KERJA MELANJUTKAN PEMBANGUNAN.
Kembali sekarang sebentar kepada Amanat "Ambeg Parama-Arta" tersebut tadi itu. Amanat itu kemudian disusul dengan amanat saya "Berdikari" pada pembukaan Sidang Umum MPRS ke-lll pada tanggal 11 April 1965, di mana dengan tegas saya tekankan tiga hal:
1. Trisakti.
Pertama
bahwa Revolusi kita mengejar suatu Idee Besar, yakni melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat; Amanat Penderitaan Rakyat seluruhnya, seluruh rakyat sebulat-bulatnya.
Kedua :
bahwa Revolusi kita berjoang mengemban Amanat Penderitaan Rakyat itu dalam persatuan dan kesatuan yang bulat-menyeluruh dan hendaknya jangan sampai watak Agung Revolusi kita, diselewengkan sehingga mengalami dekadensi yang hanya mementingkan golongann-ya sendiri saja, atau hanya sebagian dari Ampera saja!
Ketiga :
bahwa kita dalam melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat itu tetap dan tegap berpijak dengan kokoh-kuat atas landasan Trisakti, yaitu berdaulat dan bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan dan berdikari dalam ekonomi; sekali lagi berdikari dalam ekonomi!
Saya sangat gembira sekali, bahwa Amanat-amanat saya itu dulu, baik "Ambeg Parama-Arta", maupun "Berdikari" telaK Saudara-saudara tetapkan sebagai landasan-kerja dan pedoman pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana untukmasa 3 tahun yang akan datang, yaitu sisa jangka-waktu tahapan pertama mulai tahun 1966 s/d 1968 dengan landasan "Berdikari di atas Kaki Sendiri" dalam ekonomi. Ini berarti, bahwa Lembaga Tertinggi dalam Negara kita, Lembaga Tertinggi dari Revolusi kita, Lembaga Negara Tertinggi yang menurut kemurnian jiwa dan aksaranya UUD-Proklamasi kita adalah penjelmaan kedaulatan Rakyat, membenarkan Amanat-amanat saya itu. Dan tidak hanya membenarkan saja, melainkan juga menjadikannya sebagai landasan-kerja serta pedoman bagi kita-semua, ya bagi Presiden/Mandataris MPRS/Perdana Menteri ya, bagi MPRS sendiri, ya bagi DPA, ya bagi DPR, ya bagi Kabinet, ya bagi parpol-parpol dan ormas-ormas, ya bagi ABRI, dan bagi seluruh Rakyat kita dari Sabang sampai Merauke, dalam mengemban bersama Amanat Penderitaan Rakyat.
Memang, di dalam situasi nasional dan internasional dewasa ini, maka Trisakti kita, yaitu berdaulat dan bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan, berdikari di bidang ekonomi, adalah senjata yang paling ampuh di tangan seluruh rakyat kita, di tangan prajuritprajurit Revolusi kita, untuk menyelesaikan Revolusi Nasional kita yang maha dahsyat sekarang ini.
2. Rencana Ekonomi Perjoangan.
Terutama prinsip Berdikari di bidang ekonomi! Sebab dalam keadaan perekonomian bagaimanapun sulitnya, saya minta jangan dilepaskan jiwa "self-reliance" ini, jiwa percaya kepada kekuatan-diri-sendiri, jiwa self-help atau jiwa berdikari. Karenanya, maka dalam melaksanakan Ketetapan-ketetapan MPRS No.V dan Vl tahun 1965 yang lalu, saya telah meminta Bappenas dengan bantuan dan kerja sama dengan Muppenas, untuk menyusun garis-garis lebih lanjut daripada Pola Ekonomi Perjoar gan seperti yang telah saya canangkan dalam Amanat Berdikari tahun yang lalu.
Garis-garis Ekonomi Perjoangan tersebut telah selesai, dan saya lampirkan bersama ini Ikhtisar Tahunan tentang pelaksanaan Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960. Di dalamnya Saudara-saudara akan memperoleh gambaran tentang Strategi Umum Pembangunan 2 tahun 1966-1968, yaitu Pra-syarat Pembangunan, dan pola Pembiayaan tahun 1966 s/d 1968 melalui Rencana Anggaran 3 tahun.
3. Pengertian Berdikari.
Khusus mengenai Prinsip Berdikari ingin saya tekankan apa yang" telah saya nyatakan dalam pidato Proklamasi 17 Agustus 1965, yaitu pidato Takari, bahwa berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka.
Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling me nguntungkan.
Dan di dalam Rencana Ekonomi Perjoangan yang saya sampaikan bersama ini, maka Saudara-saudara dapat membaca bahwa: "Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan Pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling menguntungkan."
Dalam rangka pengertian politik Berdikari demikian inilah, kita harus menanggulangi kesulitan-kesulitan di bidang Ekubang kita dewasa ini, baik yang hubungan dengan inflasi maupun yang hubungan dengan pembayaran hutang-hutang luar negeri kita.
III. HUBUNGAN POLITIK DAN EKONOMI
Masalah Ekubang tidak dapat dilepaskan dari masalah politik, malahan harus didasarkan atas Manifesto Politik kita.
Dekon kita pun adalah Manipohdi bidang ekonomi, atau dengan lain perkataan "political-economy"-nya pembangunan kita. Dekon merupakan strategi-umum, dan strategi-umum di bidang pembangunan 3 tahun di depan kita, yaitu tahun 1966--1968, didasarkan atas pemeliharaan hubungan yang tepat antara keperluan untuk melaksanakan tugas politik dan tugas ekonomi. Demikianlah tugas politik-keamanan kita, politik-pertahanan kita, politik dalam-negeri kita, politik luar-negeri kita dan sebagainya.
IV. DETAIL KE-DPR
Detail dari tugas-tugas ini kiranya tidak perlu diperbincangkana dalam Sidang Umum MPRS, karena tugas MPRS ialah menyangkut garisgaris besarnya saja. Detailnya seyogyanya ditentukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan DPR, dalam rangka pemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945.
V. TETAP DEMOKRASI TERPIMPIN
Sekalipun demikian perlu saya peringatkan di sini, bahwa UndangUndang Dasar 1945 memungkinkan Mandataris MPRS bertindak lekas dan tepat dalam keadaan darurat demi keselamatan Negara, Rakyat dan Revolusi kita.
Dan sejak Dekrit 5 Juli 1959 dulu itu, Revolusi kita terus meningkat dan bergerak cepat, yang mau-tidak-mau mengharuskan semua Lembaga-lembaga Demokrasi kita untuk bergerak cepat pula tanpa menyelewengkan Demokrasi Terpimpin kita ke arah Demokrasi Liberal.
VI. MERINTIS JALAN KE ARAH PEMURNIAN PELAKSANAAN UUD 1945
Dalam rangka merintis jalan ke arah kemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 itulah, saya dengan surat saya tertanggal 4 Mei 1966 kepada Pimpinan DPRGR memajukan:
a. RUU Penyusunan MPR, DPR dan DPRD.
b. RUU Pemilihan Umum.
c. Penetapan Presiden No.3 tahun 1959 jo. Penetapan Presiden No.3 tahun 1966 untuk diubah menjadi Undang-Undang supaya DPA dapat ditetapkan menurut pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
VII. WEWENANG MPR DAN MPRS
Tidak lain harapan saya ialah hendaknya MPRS dalam rangka pemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 itu menyadari apa tugas dan fungsinya, juga dalam hubungan-persamaan dan perbedaannya dengan MPR hasil pemilihan-umum nanti.
Wewenang MPR selaku pelaksanaan kedaulatan Rakyat adalah menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan Negara (pasal 3 UUD), serta memilih Presiden dan Wakil Presiden (pasal 6 UUD ayat 2).
Undang-Undang Dasar serta garis-garis besar haluan Negara telah kita tentukan bersama, yaitu Undang-Undang Dasar Proklamasi 1945 dan Manipol/Usdek.
VIII. KEDUDUKAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
Undang-Undang Dasar 1945 itu menyebut pemilihan jabatan Presiden dan Wakil Presiden, masa jabatannya serta isi-sumpahnya dalam satu nafas, yang tegas bertujuan agar terjamin kesatuan-pandangan, kesatuan-pendapat, kesatuan-pikiran dan kesatuan-tindak antara Presiden dan Wakil Presiden, yang membantu Presiden (pasal 4 ayat 2 UUD).
Dalam pada itu, Presiden memegang dan menjalankan tugas, wewenang dan kekuasaan Negara serta Pemerintahan. (pasal 4, 5, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, ayat 2
Jiwa kesatuan antara kedua pejabat Negara ini, serta pembagian tugas dan wewenang seperti yang ditentukan dalam Undang-Undang Dasar 1945 hendaknya kita sadari sepenuhnya.
IX. PENUTUP
Demikian pula hendaknya kita semua, di luar dan di dalam MPRS menyadari sepenuhnya perbedaan dan persamaannya antara MPRS sekarang, dengan MPR-hasil-pemilihan-umum yang akan datang, agar supaya benar-benar kemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 dapat kita rintis bersama, sambil membuka lembaran baru dalam sejarah kelanjutan Revolusi Panca-Sila kita.
Demikianlah Saudara-saudara, teks laporan progress saya kepadaMPRS. lzinkanlah saya sekarang mengucapkan beberapa patah kata pribadi kepada Saudara-saudara, terutama sekali mengenai pribadi saya.
Lebih dahulu tentang hal laporan progress ini.
Laporan progress itu saya simpulkan dalam sembilan pasal, sembilan golongan, sembilan punt. Maka oleh karena itu saya ingin memberi judul kepada amanat saya tadi itu. Sebagaimana biasa saya memberi judul kepada pidato-pidato saya, ada yang bernama Resopim, ada yang bernama Gesuri dan lain-lain sebagainya. Amanat saya ini, saya beri judul apa? Sembilan perkara, pokok, pokok, pokok, pokok, saya tuliskan di dalam Amanat ini. Karena itu saya ingin memberi nama kepada Amanat ini, kepada pidato ini "Pidato Sembilan Pokok". Sembilan, ya sembilan apa? Kita itu biasa memakai bahasa Sanskrit kalau memberi nama kepada amanat-amanat, bahkan kita sering memakai perkataan Dwi, Tri, Tri Sakti, dua-duanya perkataan Sanskrit. Catur Pra Setia, catur-empat setia, kesetiaan, Panca Azimat, Panca adalah lima. Ini sembilan pokok; ini saya namakan apa?
Sembilan di dalam bahasa Sanskrit adalah "Nawa". Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, enam-yam, tujuh-sapta, delapan-hasta, sembilan-nawa, sepuluh-dasa. Jadi saya mau beri nama dengan perkataan "Nawa". "Nawa" apa? Ya, karena saya tulis, saya mau beri nama "NAWA AKSARA", dus "NAWA iAKSARA" atau kalau mau disingkatkan "NAWAKSARA". Tadinya ada orang yang mengusulkan diberi nama "Sembilan Ucapan Presiden". "NAWA SABDA". Nanti kalau saya kasih nama Nawa Sabda, ada saja yang salah-salah berkata: "Uh, uh, Presiden bersabda". Sabda itu seperti raja bersabda. Tidak, saya tidak mau memakai perkataan "sabda" itu, saya mau memakai perkataan "Aksara"; bukan dalam arti tulisan, jadi ada aksara latin, ada aksara Belanda dan sebagainya. NAWA AKSARA atau NAWAKSARA, itu judul yang saya berikan kepada pidato ini. Saya minta wartawan-wartawan mengumumkan hal ini, bahwa pidato Presiden dinamakan oleh Presiden NAWAKSARA . ,
Kemudian saya mau menyampaikan beberapa patah kata mengenai diri saya sendiri. Saudara-saudara semua mengetahui, bahwa tatkala saya masih muda, masih amat muda sekali, bahwa saya miskin dan oleh karena saya miskin, maka demikianlah saya sering ucapkan: "Saya tinggalkan this material world. Dunia jasmani sekarang ini laksana saya tinggalkan, karena dunia jasmani ini tidak memberi hiburan dan kepuasan kepada saya, oleh karena saya miskin." Maka saya meninggalkan dunia jasmani ini dan saya masuk katagori dalam pidato dan keterangan-keterangan yang sering masuk ke dalam world of the mind. Saya meninggalkan dunia yang material ini, saya masuk di dalam world of the mind. Dunianya alam cipta, dunia khayal, dunia pikiran. Dan telah sering saya katakan, bahwa di dalam wolrd of the mind itu, di situ saya berjumpa dengan orang-orang besar dari segala bangsa dan segala negara. Di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan nabi-nabi besar; di dalam world of the mind itusaya berjumpa dengan ahli falsafah, ahli falsafah besar. Di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang besar, dan di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan pejuang-pejuang kemerdekaan yang berkaliber besar.
Saya berjumpa denganorang-orang besar ini, tegasnya, jelasnya dari membaca buku-buku. Salah satu pemimpin besar daripada sesuatu bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan, ia mengucapkan kalimat sebagai berikut: "The cause of freedom is a deathless cause. The cause of freedom is a deathless cause. Perjuangan untuk kemerdekaan adalah satu perjuangan yang tidak mengenal mati. The cause of freedom is a deathless cause.
Sesudah saya baca kalimat itu dan renungkan kalimat itu, bukan saja saya tertarik kepada cause of freedom daripada bangsa saya sendiri dan bukan saja saya tertarik pada cause of freedom daripada seluruh umat manusia di dunia ini, tetapi saya, karena tertarik kepada cause of freedom ini saya menyumbangkan diriku kepada deathless cause ini, deathless cause of my own people, deathless cause of all people on this. Dan lantas saya mendapat keyakinan, bukan saja the cause of freedom is a deathless cause, tetapi juga the service of freedom is a deathless service. Pengabdian kepada perjuangan kemerdekaan, pengabdian kepada kemerdekaan itupun tidak mengenal maut, tidak mengenal habis. Pengabdian yang sungguh-sungguh pengabdian, bukan service yang hanya lip-service, tetapi service yang betul-betul masuk di dalam jiwa, service yang betul-betul pengabdian, service yang demikian itu adalah satu deathless service.
Dan saya tertarik oeh saya punya pendapat sendiri, pendapat pemimpin besar daripada bangsa yang saya sitir itu tadi, yang berkata "the cause of freedom is deathless cause". Saya berkata "not only the cause of freedom is deathless cause, but also the service of freedom is a deatheless service".
Dan saya, Saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri, dengan segala apa yang ada pada saya ini, kepada service of freedom, dan saya sadar sampai sekarang: the service of freedom is deathless service, yang tidak mengenal akhir, yang tidak mengenal mati. Itu adalah tulisan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.
Dan saya beritahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaanku sendiri, saya, Saudara-saudara, telah lebih daripada tiga puluh lima tahun, hampir empat tahun dedicate myself to this service of freedom. Yang saya menghendaki supaya seluruh, seluruh, seluruh rakyat Indonesia masing-masing juga dedicate jiwa raganya kepada service of freedom ini, oleh karena memang service of freedom ini is a deathless service. Tetapi akhirnya segala sesuatu adalah di tangannya Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya dedicate myself, my all to this service of freedom, itu adalah Tuhan punya urusan.
Karena itu maka saya terus, terus, terus selalu memohon kepada Allah S.W.T., agar saya diberi kesempatan untuk ikut menjalankan aku punya service of freedom ini. Tuhan yang menentukan. De mens wikt, God beslist; manusia bisa berkehendak ,macam-macam Tuhan yang menentukan. Demikianpun saya selalu bersandarkan kepada keputusan Tuhan itu. Cuma saya juga di hadapan Tuhan berkata: Ya Allah, ya Rabbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat untuk dedicate my self to this great cause of freedom and to this great service.
Inilah Saudara-saudara yang saya hendak katakan kepadamu;dalam saya pada hari seka~ang ini memberi laporan kepadamu. Moga-moga Tuhan selalu memimpin saya, moga-moga Tuhan selalu memimpin Saudara-saudara sekalian.
Sekianlah.
Rabu, 17 Agustus 2011
MERDEKA!!!!!
Tulisan ini adalah sebagai rasa “bangga sebagai warga Negara” dengan ikut berperan serta dalam mendukung cita-cita luhur anak bangsa demi “menunjukkan kepada generasi bangsa” atas dokumen sejarah perjuangan bangsa.
Teks Proklamasi yang selalu dibaca pada upacara peringatan detik-detik proklamasi ternyata “bagian” dari pidato Bung Karno pada pernyataan proklamasi kemerdekaan RI. Kita patut berbangga dan berterima kasih kepada “putra pertiwi” yang dengan bangga memasyarakatkan dokumen-dokumen penting sejarah bangsa kita. Untuk itu, Melalui buku Kapita Selekta, Seri Pertama, Buku I, yang diterbitkan CV Bintang, 1990, berikut ini saya kutipkan teks Pidato Bung Karno pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Buku ini dimasyarakatkan oleh Lembaga Sosial Pemasyarakatan Produk Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia; Badan Pelaksana Proyek Pelayanan Sosial Yayasan Kesejahteraan Rakyat Padepokan Sawunggaling.
PIDATO BUNG KARNO
PADA HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA TANGGAL 17 AGUSTUS 1945
SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN!
Saya telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun!
Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya.
Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:
PROKLAMASI
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKN KEMERDEKAAN INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN, DISELENGGARAKAN DENGAN CARA SEKSAMA DAN DALAM TEMPO SESINGKAT-SINGKATNYA.
JAKARTA, 17 AGUSTUS 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA
SUKARNO – HATTA
Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka!
Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – merdeka kekal dan abadi. Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!
Teks Proklamasi yang selalu dibaca pada upacara peringatan detik-detik proklamasi ternyata “bagian” dari pidato Bung Karno pada pernyataan proklamasi kemerdekaan RI. Kita patut berbangga dan berterima kasih kepada “putra pertiwi” yang dengan bangga memasyarakatkan dokumen-dokumen penting sejarah bangsa kita. Untuk itu, Melalui buku Kapita Selekta, Seri Pertama, Buku I, yang diterbitkan CV Bintang, 1990, berikut ini saya kutipkan teks Pidato Bung Karno pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Buku ini dimasyarakatkan oleh Lembaga Sosial Pemasyarakatan Produk Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia; Badan Pelaksana Proyek Pelayanan Sosial Yayasan Kesejahteraan Rakyat Padepokan Sawunggaling.
PIDATO BUNG KARNO
PADA HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA TANGGAL 17 AGUSTUS 1945
SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN!
Saya telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun!
Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya.
Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:
PROKLAMASI
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKN KEMERDEKAAN INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN, DISELENGGARAKAN DENGAN CARA SEKSAMA DAN DALAM TEMPO SESINGKAT-SINGKATNYA.
JAKARTA, 17 AGUSTUS 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA
SUKARNO – HATTA
Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka!
Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – merdeka kekal dan abadi. Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!
RESENSI FILM
“LASKAR PELANGI”
Oleh: Lalu Wima R.(14/XI IPA 1)
Judul : Laskar Pelangi
Karya : Andrea Hirata
Produksi : MILES FILMS dan MIZAN PRODUCTIONS
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Diluncurkan : September 2008
Film Laskar Pelangi merupakan karya adaptasi sinema dari novel fenomenal LASKAR PELANGI karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an. Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana.
Film berdurasi sekitar 2 jam ini menceritakan kehidupan 10 anak untuk mendapatkan pendidikan di salah satu pulau terkaya Indonesia, Belitong (bagian dari Provinsi Bangka Belitung). Bersama dua guru terkasih mereka, Ibu Muslimah dan Pak Harfan mereka berhasil membuktikan bahwa keterbatasan tidak mampu untuk menghambat semangat mereka untuk berprestasi dalam pendidikan.
Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Pagi itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yaitu Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Trapani, Sahara, Kucai, A Kiong, Samson,dan Harun yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, sosok guru yang menjadi anutan murid-muridnya,penuh kelembutan dan tanpa pamrih memberikan pengetahuan bukan hanya mengenai pelajaran, tetapi juga mengenai akhlak. Hari itu juga menjadi awal perkenalan mereka dan berlanjut menjadi persahabatan yang erat. Ke-sepuluh anak itu memiliki keunikan tersendiri. Kecintaan anak-anak itu terhadap pendidikan sangat besar. Bahkan, mereka rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk bisa menimba ilmu. Sedikit demi sedikit mereka membentuk impian tentang masa depan, meski secara logika impian tersebut mustahil untuk diraih. Mereka berjuang ditengah kemiskinan dan ancaman tutupnya SD Muhamadiyah.
Ikal, Lintang dan Mahar adalah salah satu dari murid-murid spesial di SD Muhammadiyah Gantong, bersama ketujuh teman mereka yang lain mereka tergabung dalam Laskar Pelangi. Mahar dengan cita rasa seninya yang tinggi berhasil membuat SD Muhammadiyah berprestasi pada Lomba Karnaval 17-an. Juga Lintang yang cerdas mampu menjadikan SD Muhammadiyah memenangkan perlombaan cerdas cermat, meskipun akhirnya nasib buruk menimpanya. Sementara Ikal yang terlibat asmara dengan seorang putri tionghoa.
Lima tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal,Lintang dan Mahar dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.
Menjelang kenaikan ke SMP, ayah Lintang meninggal. Dengan berat hati, Lintang yang sangat mencintai ilmu dan buku harus rela meninggalkan sekolah karena sebagai anak laki-laki tertua ia harus menghidupi adik-adiknya. Keluarnya Lintang dari sekolah membuat teman-temannya menjadi sedih dan kehilangan, akan tetapi tidak mematikan semangat untuk menyelesaikan sekolah.
Film ditutup dengan kembalinya tokoh Ikal dewasa ke tanah kelahirannya yaitu Belitong setelah memenangkan beasiswa uni Eropa untuk belajar di Paris, Perancis. Janji yang di ikrarkan semasa kecil sebagai anggota Laskar Pelangi menjadi Pemicu tekadnya untuk terus berjuang meraih impian hingga ia berhasil.
Laskar Pelangi adalah bagian pertama dari tetralogi karangan Andrea Hirata yang menulis film ini berdasarkan pengalaman hidupnya. Walau sebuah autobiografi, penggunaan nama-nama fiksional menandakan bagian-bagian dari serial ini adalah fiksi. Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran, dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
Inti dari film ini adalah harapan untuk anak Indonesia yang paling terpuruk. Kalau anak yang sekolah di SD bobrok di pedalaman bisa sekolah di Paris, tentu saja siapapun bisa menggapai impian mereka. Sayang sekali dalam produksi film ini, tidak tertekankan impian si anak ini untuk menuju ke Paris, walau telah di lambangkan dengan kaleng dengan gambar menara eiffel, dan pencapaian “Impian” ini jatuh secara tiba-tiba ketika Ikal kembali ke Belitong untuk memberitahu Lintang,temannya yang putus sekolah bahwa dia telah mendapat beasiswa ke Paris, Sorbonne.
Secara umum film ini memang mendidik sekaligus menghibur. Namun durasi film yang cukup singkat untuk sebuah adaptasi dari banyak kisah dalam buku Laskar Pelangi cukup banyak memangkas banyak cerita aslinya (sesuai dalam buku). Saya sedikit kecewa, pemangkasan cerita itu malah dibumbui oleh beberapa kisah yang tidak terdapat dalam buku. Mungkin itulah yang dinamakan adaptasi, tidak selalu berpatokan pada cerita asalnya. Anjuran saya, bila ingin lebih puas memaknai kisah Laskar Pelangi, lebih baik sebelum atau sesudah melihat film untuk membaca bukunya. Sejujurnya kisah Laskar Pelangi memang begitu panjang dan bermakna untuk diwujudkan dalam sebuah film. Dibanding film-film Indonesia lainnya yang bertebaran di bioskop saat ini, Laskar Pelangi mampu menyuguhkan tontonan yang lebih bermutu sekaligus mendidik.
“LASKAR PELANGI”
Oleh: Lalu Wima R.(14/XI IPA 1)
Judul : Laskar Pelangi
Karya : Andrea Hirata
Produksi : MILES FILMS dan MIZAN PRODUCTIONS
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Diluncurkan : September 2008
Film Laskar Pelangi merupakan karya adaptasi sinema dari novel fenomenal LASKAR PELANGI karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an. Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana.
Film berdurasi sekitar 2 jam ini menceritakan kehidupan 10 anak untuk mendapatkan pendidikan di salah satu pulau terkaya Indonesia, Belitong (bagian dari Provinsi Bangka Belitung). Bersama dua guru terkasih mereka, Ibu Muslimah dan Pak Harfan mereka berhasil membuktikan bahwa keterbatasan tidak mampu untuk menghambat semangat mereka untuk berprestasi dalam pendidikan.
Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Pagi itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yaitu Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Trapani, Sahara, Kucai, A Kiong, Samson,dan Harun yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, sosok guru yang menjadi anutan murid-muridnya,penuh kelembutan dan tanpa pamrih memberikan pengetahuan bukan hanya mengenai pelajaran, tetapi juga mengenai akhlak. Hari itu juga menjadi awal perkenalan mereka dan berlanjut menjadi persahabatan yang erat. Ke-sepuluh anak itu memiliki keunikan tersendiri. Kecintaan anak-anak itu terhadap pendidikan sangat besar. Bahkan, mereka rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk bisa menimba ilmu. Sedikit demi sedikit mereka membentuk impian tentang masa depan, meski secara logika impian tersebut mustahil untuk diraih. Mereka berjuang ditengah kemiskinan dan ancaman tutupnya SD Muhamadiyah.
Ikal, Lintang dan Mahar adalah salah satu dari murid-murid spesial di SD Muhammadiyah Gantong, bersama ketujuh teman mereka yang lain mereka tergabung dalam Laskar Pelangi. Mahar dengan cita rasa seninya yang tinggi berhasil membuat SD Muhammadiyah berprestasi pada Lomba Karnaval 17-an. Juga Lintang yang cerdas mampu menjadikan SD Muhammadiyah memenangkan perlombaan cerdas cermat, meskipun akhirnya nasib buruk menimpanya. Sementara Ikal yang terlibat asmara dengan seorang putri tionghoa.
Lima tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal,Lintang dan Mahar dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.
Menjelang kenaikan ke SMP, ayah Lintang meninggal. Dengan berat hati, Lintang yang sangat mencintai ilmu dan buku harus rela meninggalkan sekolah karena sebagai anak laki-laki tertua ia harus menghidupi adik-adiknya. Keluarnya Lintang dari sekolah membuat teman-temannya menjadi sedih dan kehilangan, akan tetapi tidak mematikan semangat untuk menyelesaikan sekolah.
Film ditutup dengan kembalinya tokoh Ikal dewasa ke tanah kelahirannya yaitu Belitong setelah memenangkan beasiswa uni Eropa untuk belajar di Paris, Perancis. Janji yang di ikrarkan semasa kecil sebagai anggota Laskar Pelangi menjadi Pemicu tekadnya untuk terus berjuang meraih impian hingga ia berhasil.
Laskar Pelangi adalah bagian pertama dari tetralogi karangan Andrea Hirata yang menulis film ini berdasarkan pengalaman hidupnya. Walau sebuah autobiografi, penggunaan nama-nama fiksional menandakan bagian-bagian dari serial ini adalah fiksi. Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran, dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
Inti dari film ini adalah harapan untuk anak Indonesia yang paling terpuruk. Kalau anak yang sekolah di SD bobrok di pedalaman bisa sekolah di Paris, tentu saja siapapun bisa menggapai impian mereka. Sayang sekali dalam produksi film ini, tidak tertekankan impian si anak ini untuk menuju ke Paris, walau telah di lambangkan dengan kaleng dengan gambar menara eiffel, dan pencapaian “Impian” ini jatuh secara tiba-tiba ketika Ikal kembali ke Belitong untuk memberitahu Lintang,temannya yang putus sekolah bahwa dia telah mendapat beasiswa ke Paris, Sorbonne.
Secara umum film ini memang mendidik sekaligus menghibur. Namun durasi film yang cukup singkat untuk sebuah adaptasi dari banyak kisah dalam buku Laskar Pelangi cukup banyak memangkas banyak cerita aslinya (sesuai dalam buku). Saya sedikit kecewa, pemangkasan cerita itu malah dibumbui oleh beberapa kisah yang tidak terdapat dalam buku. Mungkin itulah yang dinamakan adaptasi, tidak selalu berpatokan pada cerita asalnya. Anjuran saya, bila ingin lebih puas memaknai kisah Laskar Pelangi, lebih baik sebelum atau sesudah melihat film untuk membaca bukunya. Sejujurnya kisah Laskar Pelangi memang begitu panjang dan bermakna untuk diwujudkan dalam sebuah film. Dibanding film-film Indonesia lainnya yang bertebaran di bioskop saat ini, Laskar Pelangi mampu menyuguhkan tontonan yang lebih bermutu sekaligus mendidik.
Jumat, 18 Februari 2011
Istilah-istilah dalam Dunia BUS
BUMEL
Istilah : Bumel Definisi : Bis dengan kelas ekonomi, harga paling murah dari seluruh kelas. Konfigurasi tempat duduk biasanya 2 – 3. Biasanya tidak ber-AC, tetapi ada beberapa PO yang memberikan fasilitas ini gratis. Contoh : “yuk kita naek bumel aja, biar murah”
LOB
Istilah : Lob Definisi : Adalah istilah para Driver jika,pada kondisi jalan menurun Driver tidak menyentuh/menggunakan rem .Tapi biasanya Driver tersebut memang sudah hapal/mengenal situasi dan kondisi jalan tersebut. Contoh : -
GUNTING
Istilah : Gunting Definisi : Istilah bagi kernet / kondektur bis untuk meminta ongkos dari penumpang. Contoh : “itu penumpang dah di gunting belum tuh….!”
KLOK
Istilah : Klok , Mesin Klok Definisi : – Terdapat kerusakan pada bus di bagian mesin sehingga harus turun mesin – Mesin mati total
KRESS
Istilah : Kres Definisi : Bersimpangan, bersilangan atau berpapasan dengan bus (atau kendaraan lain) dari arah berlawanan. Kadang digunakan juga untuk memberitahu adanya kendaraan lain dari arah berlawanan ketika akan menyalip. Contoh : “Nanti di sekitar Cirebon kita kres sama mobilnya Pak A” “Awas, kres” ============================================ Nambahin “kres” maksudnya bersilangan / simpangan dg bus dari [...]
Blong/Ngeblong
Istilah : Blong, Ngeblong Persamaan : Bola Tanggung Definisi : 1. Mendahului kendaraan dengan memaksa padahal dari jalur berlawanan ada kendaraan. 2. Menerobos lampu merah. 3. Mengambil jalur yang bukan miliknya, biasanya di jembatan. 4. Tidak masuk ke terminal (yang seharusnya masuk). 5. Berangkat ke tujuan tanpa penumpang ( ada yang bilang “nglondang” ) .. [...]
Bola Tanggung
Istilah : Bola Tanggung Persamaan : Blong, Ngeblong Definisi : Posisi ketika tanggung, antara mau menyalib kendaraan di depannya atau mengerem di belakang kendaraan didepannya, kebanyakan yang terjadi adalah kendaraan memaksa untuk menyalip.
Slah/selah/ngeslah
Istilah : Slah / Selah / Ngeslah Definisi : Slah / Selah diambil dari kata celah, atau dari bahasa jawa “sela”, yang artinya jarak atau celah, diartikan sebagai jarak antara bis depannya dan bis nya sendiri dan (atau) bis di belakangnya. Ngeslah adalah ketika mencoba mencari celah jarak yang cukup bagus (atau lama) untuk mendapatkan [...]
Tem/ngetem
Istilah : Tem, Ngetem Definisi : Tem merupakan tempat berhenti bis, biasanya tempat dimana banyak calon penumpang. Ngetem merupakan tindakan bis berhenti menunggu penumpang.
Nyodok
Istilah : Nyodok Persamaan : Ngeblong Definisi : 1. Tidak ikut dalam antrian, langsung menyodok ke depan. 2. Memaksa mendahului mobil di depannya (seperti ngeblong)
Perpal
Istilah : Perpal Definisi : Bis tidak (jadi) berangkat. ===================================================== PERPAL : Bus yang tiba ke kota Tujuan tetapi tidak harus berangkat kembali pada hari yang sama dan harus nunggu besok dikarenakan sesuatu hal, misalnya: tidak ada penumpang, rusak (engine), habis jadwal, macet parah, dsb.. ====================================================== perpal=posisi stand by atau keadaan gak operasional mgkn karena [...]
Rata bangku
Istilah : Rata Bangku Definisi : Kondisi ketika bangku bis semuanya terisi, tetapi belum sampai ada penumpang berdiri.
Sewa
Istilah : Sewa Sewa Cair Sewa Batu Definisi : Sewa: Istilah untuk menyebut Penumpang Sewa Cair: Penumpang jarak dekat. Paling diminati oleh bis kota. Sewa Batu: Penumpang yang naik dari awal tujuan hingga akhir tujuan. Istilah ini lebih sering digunakan pada bis kota / bis bumel Untuk bis pariwisata, sewa bisa diartikan sebagai menyewa bis.
SPJ
Istilah : SPJ Definisi : SPJ (Surat Perintah Jalan) Dokumen yang dipegang oleh kru, dikeluarkan oleh kantor, sebagai bukti penunjukan kerja, sekaligus didalamnya terdapat data yang perlu diisi untuk evaluasi kerja. Contoh :
Timer
Istilah : Timer Definisi : Orang yang mencatat waktu bis lewat di tempatnya. Timer ini berguna sebagai penanda berapa lama jarak (slah / selah) yang dimiliki oleh bis nya, bis di depannya, bahkan bis lebih depannya lagi.
Teler
Istilah : Teler (dibaca persis seperti “teler” yang berarti mabuk) Definisi : 1. Kejadian ketika bis harus melakukan perjalanan yang sebenarnya bukan trayeknya, karena beberapa alasan. 2. Keadaan pengemudi ketika diharuskan mengemudi ekstra karena terjadinya perubahaan pada trayeknya, karena beberapa alasan. ============================================= Subject: [BisMania] malang teler dear bismania saya mo tanya info tentang kramat djati [...]
Istilah : Bumel Definisi : Bis dengan kelas ekonomi, harga paling murah dari seluruh kelas. Konfigurasi tempat duduk biasanya 2 – 3. Biasanya tidak ber-AC, tetapi ada beberapa PO yang memberikan fasilitas ini gratis. Contoh : “yuk kita naek bumel aja, biar murah”
LOB
Istilah : Lob Definisi : Adalah istilah para Driver jika,pada kondisi jalan menurun Driver tidak menyentuh/menggunakan rem .Tapi biasanya Driver tersebut memang sudah hapal/mengenal situasi dan kondisi jalan tersebut. Contoh : -
GUNTING
Istilah : Gunting Definisi : Istilah bagi kernet / kondektur bis untuk meminta ongkos dari penumpang. Contoh : “itu penumpang dah di gunting belum tuh….!”
KLOK
Istilah : Klok , Mesin Klok Definisi : – Terdapat kerusakan pada bus di bagian mesin sehingga harus turun mesin – Mesin mati total
KRESS
Istilah : Kres Definisi : Bersimpangan, bersilangan atau berpapasan dengan bus (atau kendaraan lain) dari arah berlawanan. Kadang digunakan juga untuk memberitahu adanya kendaraan lain dari arah berlawanan ketika akan menyalip. Contoh : “Nanti di sekitar Cirebon kita kres sama mobilnya Pak A” “Awas, kres” ============================================ Nambahin “kres” maksudnya bersilangan / simpangan dg bus dari [...]
Blong/Ngeblong
Istilah : Blong, Ngeblong Persamaan : Bola Tanggung Definisi : 1. Mendahului kendaraan dengan memaksa padahal dari jalur berlawanan ada kendaraan. 2. Menerobos lampu merah. 3. Mengambil jalur yang bukan miliknya, biasanya di jembatan. 4. Tidak masuk ke terminal (yang seharusnya masuk). 5. Berangkat ke tujuan tanpa penumpang ( ada yang bilang “nglondang” ) .. [...]
Bola Tanggung
Istilah : Bola Tanggung Persamaan : Blong, Ngeblong Definisi : Posisi ketika tanggung, antara mau menyalib kendaraan di depannya atau mengerem di belakang kendaraan didepannya, kebanyakan yang terjadi adalah kendaraan memaksa untuk menyalip.
Slah/selah/ngeslah
Istilah : Slah / Selah / Ngeslah Definisi : Slah / Selah diambil dari kata celah, atau dari bahasa jawa “sela”, yang artinya jarak atau celah, diartikan sebagai jarak antara bis depannya dan bis nya sendiri dan (atau) bis di belakangnya. Ngeslah adalah ketika mencoba mencari celah jarak yang cukup bagus (atau lama) untuk mendapatkan [...]
Tem/ngetem
Istilah : Tem, Ngetem Definisi : Tem merupakan tempat berhenti bis, biasanya tempat dimana banyak calon penumpang. Ngetem merupakan tindakan bis berhenti menunggu penumpang.
Nyodok
Istilah : Nyodok Persamaan : Ngeblong Definisi : 1. Tidak ikut dalam antrian, langsung menyodok ke depan. 2. Memaksa mendahului mobil di depannya (seperti ngeblong)
Perpal
Istilah : Perpal Definisi : Bis tidak (jadi) berangkat. ===================================================== PERPAL : Bus yang tiba ke kota Tujuan tetapi tidak harus berangkat kembali pada hari yang sama dan harus nunggu besok dikarenakan sesuatu hal, misalnya: tidak ada penumpang, rusak (engine), habis jadwal, macet parah, dsb.. ====================================================== perpal=posisi stand by atau keadaan gak operasional mgkn karena [...]
Rata bangku
Istilah : Rata Bangku Definisi : Kondisi ketika bangku bis semuanya terisi, tetapi belum sampai ada penumpang berdiri.
Sewa
Istilah : Sewa Sewa Cair Sewa Batu Definisi : Sewa: Istilah untuk menyebut Penumpang Sewa Cair: Penumpang jarak dekat. Paling diminati oleh bis kota. Sewa Batu: Penumpang yang naik dari awal tujuan hingga akhir tujuan. Istilah ini lebih sering digunakan pada bis kota / bis bumel Untuk bis pariwisata, sewa bisa diartikan sebagai menyewa bis.
SPJ
Istilah : SPJ Definisi : SPJ (Surat Perintah Jalan) Dokumen yang dipegang oleh kru, dikeluarkan oleh kantor, sebagai bukti penunjukan kerja, sekaligus didalamnya terdapat data yang perlu diisi untuk evaluasi kerja. Contoh :
Timer
Istilah : Timer Definisi : Orang yang mencatat waktu bis lewat di tempatnya. Timer ini berguna sebagai penanda berapa lama jarak (slah / selah) yang dimiliki oleh bis nya, bis di depannya, bahkan bis lebih depannya lagi.
Teler
Istilah : Teler (dibaca persis seperti “teler” yang berarti mabuk) Definisi : 1. Kejadian ketika bis harus melakukan perjalanan yang sebenarnya bukan trayeknya, karena beberapa alasan. 2. Keadaan pengemudi ketika diharuskan mengemudi ekstra karena terjadinya perubahaan pada trayeknya, karena beberapa alasan. ============================================= Subject: [BisMania] malang teler dear bismania saya mo tanya info tentang kramat djati [...]
Sabtu, 29 Januari 2011
PERUBAHAN IKLIM
Akhir-akhir ini hampir semua media massa di negeri ini memberitakan kondisi iklim yang tidak menentu. Perubahan iklim tersebut terjadi karena Pemanasan global. Perubahan Iklim adalah suatu keadaan dimana pola iklim dunia berubah. Suatu daerah mungkin mengalami pemanasan, tetapi daerah lain mengalami pendinginan yang tidak wajar.
Perubahan iklim terjadi diakibatkan adanya pemanasan global karena meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia, seperti industri, transportasi, kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan. Pada umumnya perubahan iklim ditandai dengan terjadinya kenaikan suhu udara di permukaan bumi dan naiknya panas permukaan laut. Pada umumnya di wilayah benua maritim Indonesia memiliki variabilitas unsur iklim curah hujan yang lebih besar dibanding unsur iklim lainnya seperti suhu, tekanan, dan kelembaban udara
Ternyata iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20, karena, industri semakin berkembang dan transportasi semakin banyak. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekiitar 0,3 oC sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1oC di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun.
Perubahan iklim di bumi semakin parah ini dibuktikan dengan prediksi para ahli yang memprediksi Suhu meningkat “ 1,5-4,5 oC pada 2100 hingga air laut naik mencapai 15-95 cm yang menyebabkan hilangnya daratan seiring kedaulatan yang ikut hilang. Banyak negara akan hilang “
Sedangkan Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer di dekat permukaan bumi dan laut selama beberapa dekade terakhir dan proyeksi untuk beberapa waktu yang akan datang.
Pemanasan global berakibat tidak menentunya cuaca, demikian juga suhu udara yang mengakibatkan panas yang ekstrim dan hujan deras yang berpotensi menyebabkan banjir. Tiap hari hujan lebat melanda Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya. Gelombang laut yang tingginya berkisar 3-5 meter dan badai terjadi di Laut Jawa, Laut Cina Selatan, Banda, Flores dan perairan lainnya di Indonesia. Selain itu bencana longsor juga banyak terjadi terutama saat musim hujan. Berbagai bencana longsor dan banjir di Indonesia banyak terjadi, yang pada awal-awal tahun 2010 ini saja sudah terjadi tanah longsor di daerah Ciwidey kabupaten Bandung Jawa Barat, di Jogjakarta, di Jawa Tengah, Pacitan Jawa Timur, dan Mandailing Natal Sumatera Utara, serta seringnya terjadi banjir misalnya di Bogor dan Bandung Selatan Jawa Barat. Banjir di Semarang Jawa Tengah, Sidoarjo Jawa Timur, dan banjir di Jakarta. Selain itu banjir terjadi juga di Pulau Sumatera yaitu Sumatera Selatan misalnya banjir di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kota Palembang, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Prabumulih.
Salah satu solusi untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan mengefisienkan penggunaan BBM dan gas. Beberapa di antaranya yang dapat dilakukan dengan mudah yaitu memilih produk dalam negeri karena produk impor akan membutuhkan BBM yang lebih banyak. Mengemudikan kendaraan dengan benar (ecodriving) juga akan menghemat BBM. Misalnya, tidak mengemudi dengan agresif dan pindah ke gigi yang lebih tinggi secepat mungkin juga jangan terlalu cepat saat pindah ke gigi yang lebih rendah. Atau melestarikan hutan alam. Keberadaan pepohonan berfungsi untuk menjaga keseimbangan pasokan air dan juga menjaga kualitas udara dengan menyerap polutan udara seperti CO2 yang dapat mengurangi kadar GRK. Pohon adalah pabrik oksigen bagi makhluk hidup. Satu pohon besar dapat menyumbangkan oksigen untuk dua orang. Akar pohon berfungsi menyerap dan menyimpan air sehingga membantu kita terhindar dari banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Pepohonan yang rindang dapat berfungsi sebagai AC alami karena dapat menurunkan suhu udara di sekitarnya.
Sampai saat ini hampir setiap aktivitas manusia umumnya kurang memperhatikan hidup berkelanjutan karena yang diperhatikan hanya dirinya dan kehidupan manusia itu sendiri serta kehidupan masa kini. Sebaiknya saat ini manusia harus mulai memikirkan kehidupan massa depan dan kehidupan untuk berkelanjutan yaitu kehidupan untuk generasi penerus dan kehidupan untuk makhluk hidup lainnya.
Perubahan iklim terjadi diakibatkan adanya pemanasan global karena meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia, seperti industri, transportasi, kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan. Pada umumnya perubahan iklim ditandai dengan terjadinya kenaikan suhu udara di permukaan bumi dan naiknya panas permukaan laut. Pada umumnya di wilayah benua maritim Indonesia memiliki variabilitas unsur iklim curah hujan yang lebih besar dibanding unsur iklim lainnya seperti suhu, tekanan, dan kelembaban udara
Ternyata iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20, karena, industri semakin berkembang dan transportasi semakin banyak. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekiitar 0,3 oC sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1oC di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun.
Perubahan iklim di bumi semakin parah ini dibuktikan dengan prediksi para ahli yang memprediksi Suhu meningkat “ 1,5-4,5 oC pada 2100 hingga air laut naik mencapai 15-95 cm yang menyebabkan hilangnya daratan seiring kedaulatan yang ikut hilang. Banyak negara akan hilang “
Sedangkan Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer di dekat permukaan bumi dan laut selama beberapa dekade terakhir dan proyeksi untuk beberapa waktu yang akan datang.
Pemanasan global berakibat tidak menentunya cuaca, demikian juga suhu udara yang mengakibatkan panas yang ekstrim dan hujan deras yang berpotensi menyebabkan banjir. Tiap hari hujan lebat melanda Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya. Gelombang laut yang tingginya berkisar 3-5 meter dan badai terjadi di Laut Jawa, Laut Cina Selatan, Banda, Flores dan perairan lainnya di Indonesia. Selain itu bencana longsor juga banyak terjadi terutama saat musim hujan. Berbagai bencana longsor dan banjir di Indonesia banyak terjadi, yang pada awal-awal tahun 2010 ini saja sudah terjadi tanah longsor di daerah Ciwidey kabupaten Bandung Jawa Barat, di Jogjakarta, di Jawa Tengah, Pacitan Jawa Timur, dan Mandailing Natal Sumatera Utara, serta seringnya terjadi banjir misalnya di Bogor dan Bandung Selatan Jawa Barat. Banjir di Semarang Jawa Tengah, Sidoarjo Jawa Timur, dan banjir di Jakarta. Selain itu banjir terjadi juga di Pulau Sumatera yaitu Sumatera Selatan misalnya banjir di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kota Palembang, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Prabumulih.
Salah satu solusi untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan mengefisienkan penggunaan BBM dan gas. Beberapa di antaranya yang dapat dilakukan dengan mudah yaitu memilih produk dalam negeri karena produk impor akan membutuhkan BBM yang lebih banyak. Mengemudikan kendaraan dengan benar (ecodriving) juga akan menghemat BBM. Misalnya, tidak mengemudi dengan agresif dan pindah ke gigi yang lebih tinggi secepat mungkin juga jangan terlalu cepat saat pindah ke gigi yang lebih rendah. Atau melestarikan hutan alam. Keberadaan pepohonan berfungsi untuk menjaga keseimbangan pasokan air dan juga menjaga kualitas udara dengan menyerap polutan udara seperti CO2 yang dapat mengurangi kadar GRK. Pohon adalah pabrik oksigen bagi makhluk hidup. Satu pohon besar dapat menyumbangkan oksigen untuk dua orang. Akar pohon berfungsi menyerap dan menyimpan air sehingga membantu kita terhindar dari banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Pepohonan yang rindang dapat berfungsi sebagai AC alami karena dapat menurunkan suhu udara di sekitarnya.
Sampai saat ini hampir setiap aktivitas manusia umumnya kurang memperhatikan hidup berkelanjutan karena yang diperhatikan hanya dirinya dan kehidupan manusia itu sendiri serta kehidupan masa kini. Sebaiknya saat ini manusia harus mulai memikirkan kehidupan massa depan dan kehidupan untuk berkelanjutan yaitu kehidupan untuk generasi penerus dan kehidupan untuk makhluk hidup lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

